Bila dilihat dari jalur angkutan umum yang ada di Malang, sebenarnya sudah cukup baik, hampir semua lokasi terjangkau jalur angkot. Namun, yang jadi masalah utama sering kali karena seringnya supir angkot ngetem (pada tau kan ngetem itu apa? :D). Hal inilah yang mengakibatkan waktu tempuh jadi lama. Bayangkan, kalau dengan kendaraan pribadi, misal motor, jarak dari rumah ke kampus bisa ditempuh paling tidak 20-30 menit. Sementara, kalau naik angkot, saya membutuhkan waktu sekitar satu jam hingga satu setengah jam untuk sampai. Paling cepat 45 menit, dengan catatan saya tidak lama nunggu angkot lewat, supir angkotnya tidak ngetem dan angkotnya jalan lebih cepat dari saya jalan kaki :doh:
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya tidak terlalu suka jika ada acara dadakan atau buat janji sama saya dadakan. Maksimal satu setengah jam sebelum waktu acara atau janji saya sudah tau. Kalau lebih dari itu, saya hampir pasti telat :(
Yaa, itu di Malang. Kalau di kota saya, di Negara, Bali, tambah lebih susah lagi ( Kalau menurut saya pribadi, angkutan umum di Bali sangat kurang, dari segi jalur angkutan hingga penumpang hehehe. Mungkin karena masyarakat di sana yg lebih suka naik kendaraan pribadi atau alasan lain, saya kurang tahu, pun belum pernah neliti hehehe *pisss
Kali ini, saya tidak ingin mengupas bagaimana sistem transportasi umum di kebanyakan kota-kota di negeri ini. Selain karena saya bukan orang yang ‘pantas’ untuk berkomentar terlalu jauh, saya juga agak malas komentar tentang itu :D
Ada beberapa hal yg saya "suka" saat saya naik angkot. Saat sedang kuliah, tentu, angkot bisa jadi tempat untuk baca-baca bahan ujian saat akan ujian *ehh
Saat berada di angkot, saya bisa ‘mengistirahatkan’ otak saya sejenak. Berpikir kembali akan kejadian-kejadian yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Merenungi setiap langkah yang telah saya ambil. Mengumpulkan kembali semangat yang mulai berserakan. Tak jarang meninggalkan segala penat dan masalah yang ada dalam benak di jalan-jalan yang dilewati angkot.
Selain kedua hal di atas, pada saat berada di angkot, saya bisa melihat beragam model masyarakat dengan segala latar belakangnya. Saya mungkin tidak terlalu suka mengobrol saat di kendaraan, tapi saya suka memperhatikan beragam laku penumpang yang ada, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pegawai, buruh, ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat lainnya. Dari mereka, saya belajar bagaimana keadaan masyarakat yang ada di sekitar saya. Bagaimana orang lain menjalani hidup. Yaa.., mungkin saya hanya bisa menilai dari apa yang tampak dan apa yang saya dengar pada saat itu. Bukan menguping.., hanya apa yang terdengar karena tak jarang saya juga tak paham apa yang diperbincangkan :D
Hal lain yang sering saya lihat dan menurut saya ini ‘lucu’ hehe. Kalau ada dua orang atau lebih yang saling kenal kemudian ketemu di angkot. Biasanya salah satunya akan membayarkan ongkos angkot untuk yang lain. Terkadang yang berusia lebih muda membayarkan yang usianya lebih muda. Ada juga yang lebih tua yang membayarkan yang lebih muda. Terkadang yang turun lebih dulu, saat membayar langsung bayar untuk dua orang ke supirnya. Kadang juga yang turun belakangan yang bayar. Jadi, waktu yang turun duluan mau bayar, yang masih di dalam angkot langsung bilang ke supirnya, ‘di belakang pak’ atau kalau duduk di belakang supir langsung kasih duit dari belakang supir hehe. Yang lucu itu, kalau mereka ‘saling mau membayarkan’ sampai ‘rebutan bayarin’ hehe. Sampai-sampai pernah si supir bingung ambil uang dari siapa hehe. Buat saya, lucu aja hehe. Saya belum tahu, kata apa ya yang tepat untuk menggambarkan hal ini :D
Diantara penumpang-penumpang angkot tersebut, pelajar (siswa-siswi SD-SMA) merupakan penumpang yang paling sering saya temui. Saat berangkat dan pulang dari kuliah dulu, saya sering bersamaan dengan jam berangkat dan jam pulang dari pelajar-pelajar tersebut. Layaknya pelajar-pelajar pada umumnya, mereka selalu mengobrol berbagai macam hal. Mulai dari topik pelajaran di kelas, guru yang mengajar, teman-teman di sekolah, acara-acara tv, hingga masalah cinta ._. Saat ‘mendengar’ perbincangan mereka, beragam hal yang terlintas dalam benak. Terkadang saya ingin tertawa, kagum, mengernyitkan dahi, kasihan, hingga miris.
Saat masih semester awal kuliah (lupa tepatnya), saya pernah, secara tidak sengaja tentunya, mendengar siswi-siswi SMP sedang membincangkan guru PPL yang ada di sekolah mereka. Yang terlintas dalam benak saya saat itu, “ahh.., besok waktu saya PPL, apa bakal dibicarakan macam gini ya?” Kemudian saya menjadi ‘agak takut’ sama yang namanya PPL. Ya, jujur saya akui, saat masih semester awal-awal kuliah, PPL itu masih menjadi suatu hal yang agak menakutkan bagi saya pribadi. Entah mengapa.
Ada satu hal yang saya tidak terlalu suka saat berada satu angkot sama siswa-siswi ini, yaitu saat mereka sudah membahas masalah cinta, bahas pacaran, bahas cewek atau cowok mereka -_- Tetiba sedih aja saat dengar itu. Plus saya nggak bisa buat apa-apa juga. Kan nggak mungkin juga yaa.., kalau saat itu saya tetiba bilang, “dek, tahu nggak kalau pacaran dalam Islam itu nggak boleh?” Mungkin sebenarnya bisa saja, saya-nya aja yang nggak berani mungkin hehe. Hhmm.. beginikah apa yang dihadapi anak-anak muda saat ini? Rabbi (
Pengaruh apa ya ini?
Ketidaktahuan? Atau pura-pura tidak tahu? Pengaruh media? Globalisasi? Westernisasi? Rusaknya ilmu? Atau Islam hanya dijadikan ilmu tanpa amal? Atau amal tanpa ilmu? Atau kuliminasi dari semua hal itu?
Ahh.., saya jadi teringat. Pernah suatu hari, saat saya berangkat ke kampus agak siang, saya satu angkot dengan beberapa siswi SMP yang baru pulang sekolah. Tampaknya mereka pulang sekolah lebih awal. Ada tiga atau empat orang siswi kalau tidak salah. Salah seorang dari mereka mengenakan kerudung. Kemudian salah seorang siswi yang lain tampaknya menggoda siswi yang mengenakan kerudung ini dengan menyebut nama seorang cowok. Kemudian tetiba, siswi yang mengenakan kerudung ini mengatakan pada temannya yang lain bagaimana hukum pacaran dalam Islam yang ada di Al-Qur’an (maaf, saya agak lupa redaksi kalimat yang digunakan). Agak kaget juga saya saat itu hehehe. Teman-temannya saat itu menanggapi singkat dengan ‘agak sinis’. Kemudian mereka semua diam hehehe
Media. Ya, media tak bisa dipungkiri memegang peranan yang besar dalam hal ini. Budaya-budaya ini bukankah jamak ditayangkan di media, terutama media elektronik? Tengok saja bagaimana sinetron-sinetron dan drama-drama yang ditayangkan di televise saat ini.
Ya.., harus saya akui kalau saat ini saya hidup pada zaman yang ‘aneh’. Saya benar-benar tidak menemukan kata yang tepat untuk itu hehe
Sesuatu yang jamak di masyarakat tampak sebagai kebenaran. Padahal kebenaran tidaklah demikian. Bahkan suatu kesalahan yang dibiarkan dan terus-menerus dilakukan bisa tampak menjadi suatu kebenaran. Saat agama diminta hanya ada dalam ruang-ruang privat. Saat kafir yang baik hati tampak lebih baik dari pada muslim yang ‘kurang baik’. Saat pendidikan di sekolah sudah tersekulerkan. Ahh.., saya kira tidak hanya pendidikan. Bukankah saat ini sekulerisasi, baik yang sadar atau tidak, menjadi semakin menjamur?
Mereka, pelajar-pelajar ini disebut sebagai generasi penerus bangsa. Semoga Allah melindungi mereka dan memberikan petunjuk pada mereka. Amiinn.
Yaa.., seperti yang saya katakana sebelumnya. Saat naik angkot itu ada banyak cerita dan tak jarang ada pelajaran dan hikmah tersendiri yang bisa diambil. Lumayanlah untuk membunuh kebosanan dalam angkot (
Wallahu a’lam bi shawab
22 desember 2013
Menyelesaikan apa yang telah dimulai
No comments:
Post a Comment