Saya, mungkin hampir semua dari kita,
pernah merasa terluka atau membuat luka pada orang lain. Entah luka yang
disebabkan oleh sikap atau kata. Entah luka yang sengaja kita perbuat atau luka
yang tidak sengaja kita perbuat. Entah karena kata yang sengaja kita ucapkan
atau kata yang tanpa kita sadari menoreh luka pada orang lain.
Katanya, kita merasa terluka karena kita
membiarkan hal ini terjadi. Mungkin benar. Mungkin kita yang terlalu ‘sensitif’
sehingga setiap kata dan perbuatan orang lain yang kurang berkenan, masuk ke
dalam hati dan perasaan kita. Terus-menerus dipikirkan hingga menjadi luka pada
diri sendiri.
Namun, merasa terluka juga bukan sesuatu
yang salah bukan? Karena kita manusia, yang punya rasa. Yang terpenting adalah
bagaimana mengatasi rasa luka itu agar tak berkepanjangan, agar tak berkembang
menjadi penyakit hati. Karena menyimpan luka pun sangat melelahkan.
Saya pun pernah terluka.
Luka karena kata.
Luka karena perilaku.
Bahkan luka karena canda.
Luka karena kata.
Luka karena perilaku.
Bahkan luka karena canda.
Ada yang tak butuh waktu lama untuk
menyembuhkannya. Namun, ada pula yang membutuhkan waktu. Ada luka yang kembali
menganga saat ia hampir tertutup, yaa luka di tempat yang sama.
Namun, semua luka itu butuh waktu. Waktu
untuk sembuh.
Mungkin tidak akan sama seperti
sebelumnya. Paling tidak, tidak ada rasa sakit yang terasa.
Ahhh.., mungkin diri ini yang masih
terlalu bodoh dalam mengobati luka.
Malang, 7 November 2013
Menyelesaikan tulisan lama ._.